Fokus Pada Tujuan

Ditulis oleh :Nukman Luthfie

Pernahkah kita merasa kebanyakan pekerjaan rumah yang tidak rampung-rampung juga? Pernahkah kita bangun tidur dengan beban harus mengerjakan ini itu yang seharusnya dikerjakan kemarin-kemarin?

Saya pernah.

Pernahkah kita merasa hari-hari kita tidak produktif? Pernahkah kita merasakan hari berlalu begitu saja dan tidak ada satu pun hal yang selesai kita kerjakan padahal itu hal yang amat penting?

Saya juga pernah.

Pernahkah kita merasa bosan, jenuh dan kemudian menonton teve berjam-jam?

Tentu saya pernah.

Pernahkah kita melihat begitu banyak peluang dan ingin merengkuh semuanya — dan pada akhirnya yang terengkuh tak seberapa — atau bahkan sama sekali tak ada yang terengkuh?

Kebetulan saya belum pernah

Dan saya yakin, kita semua pernah mengalami hal-hal seperti itu. Tentu dengan kadar masing-masing. Ada yang memang punya budaya menunda pekerjaan sehingga repot sendiri setiap harinya. Ada yang memang “karena kita manusia” maka kita juga punya peluang sekecil apapun untuk jenuh, lelah dan akhirnya tidak produktif.

Sebenarnya kebiasaan buruk (atau kelemahan) semacam itu bisa dipangkas jika kita memiliki sikap untuk fokus pada tujuan.

Kalau kita ingin menjadi karyawan terbaik misalnya, dan kita fokus betul ke tujuan itu. Dengan fokus yang jelas itu, maka dengan sendirinya kita membangun habit menuju ke sasaran.

Kalau mau jadi entrepreneur, jagalah terus menerus fokus ke sana, sebab kalau kita kehilangan fokus ke tujuan itu, sampai matipun kita belum tentu jadi pengusaha.

Kalau mau berhenti merokok, fokuslah pada tujuan itu. Sekali kehilangan fokus, tanpa sadar kita akan menghisap asap beracun itu lagi meski sudah pernah berhenti.

Apa Itu Mind Map ?

  1. Mind Map adalah cara mengembangkan kegiatan berpikir ke segala arah, menangkap berbagai pikiran dalam berbagai sudut.
  2. Mind Map mengembangkan cara pikir divergen, berpikir kreatif.
  3. Mind Map adalah alat berpikir organisasional yang sangat hebat. Mind Map dapat diistilahkan sebagai “Pisau Tentara Swiss Otak.”
  4. Mind Map adalah cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi itu ketika dibutuhkan.

Membangun Portal E-Learning

Sumber : ilmukomputer.com

Ditulis Oleh : Andi Pramono

Jika Anda memiliki segudang ilmu dan Anda bingung untuk mempublikasikannya, maka langkah yang tepat menurut saya adalah membangun sebuah portal E-Learning. Tidak harus sebuah institusi yang bisa membangun website E-Learning, namun juga bisa beberapa orang atau bahkan tidak menutup kemungkinan dikerjakan oleh satu orang saja. Untuk memulainya silahkan buat yang kecil-kecilan, mulai dari ilmu yang Anda miliki sendiri dan bisa Anda kembangkan dengan ilmu yang dimiliki teman Anda. Semuanya akan kita bahas dalam suatu konsep sebelum pengerjaan.

Konsep awal dari pembuatan E-learning ada yang bersifat money oriented, trial version, atau bahkan free. Jika Anda masih tergolong pemula, penulis sarankan untuk membuat portal e-learning yang berbasis free, itung-itung sebagai media promosi untuk menarik banyak pelanggan. Jika website Anda dikunjungi banyak orang dan banyak yang menggunakan atau mendwonload tutorial Anda, bisa anda kembangkan ke trial version dimana Anda cuman memberikan beberapa materi saja yang free sedangkan materi yang lain harus membayar. Bahkan tidak menutup kemungkinan Anda membuat yang money oriented bila pengunjung website Anda sangat banyak.

Konsep kedua yang perlu Anda rencanakan adalah bidang apa yang merupakan target sasaran Anda? Karena ini akan berpengaruh terhadap jenis file yang akan Anda letakkan di website Anda. Sebagai contoh jika Anda bergerak di bidang hukum, politik, motivasi, maka di website Anda akan lebih banyak file teks. Sebaliknya jika website Anda bergerak di bidang komputer, multimedia, grafis, maka pada website Anda akan lebih menekankan pada penggunaan file teks dan gambar juga video tutorial.

Konsep terakhir dalam pembuatan portal E-learning adalah tempat publikasi dan penyimpanan file. Apakah Anda akan menggunakan website yang berbayar, gratis, atau kedua-duanya. Pada masing-masing web server memiliki aturan dan kebijakan yang berbeda-beda. Dari situ juga Anda dapat menentukan software apa yang nantinya akan Anda gunakan dalam portal E-learning Anda.

Telekomunikasi Berbasis Kerakyatan

Onno W. Purbo
Rakyat Indonesia Biasa

Sweeping terhadap VoIP maupun Internet Wireless di 2.4GHz tanpa dasar hukum yang disepakati oleh rakyat, menyebabkan belakangan ini dunia telekomunikasi harus prihatin melihat tingkah para birokrat, penguasa & aparatnya yang lupa daratan, cenderung arogan dan lupa akan siapa yang menggaji mereka selama ini. Sialnya, para petinggi & birokrat dengan mudah cuci tangan dari tanggung jawab akan tindakan aparatnya di lapangan. Sungguh memalukan! Shame on you!

Jika saya perhatikan, penguasa & aparatnya lebih suka melakukan penggerebekan pada instalasi besar milik operator, pengusaha besar dll. yang akan menghasilkan uang / barang / harta palakan yang besar. Strategi perang gerilya / semesta telekomunikasi, dengan cara membangun infrastruktur telekomunikasi rakyat. Infrastruktur telekomunikasi rakyat disini bukan infrastruktur publik dan sama sekali tidak bertumpu pada operator telekomunikasi yang ada sekarang ini, tapi betul-betul di bangun oleh rakyat, dari rakyat, untuk rakyat. Sudah tentu karena keterbatasan modal bentuknya sangat kecil-kecil, berupa WARNET, RT/RW-net, internet tanpa kabel dll. Tapi karena teknologinya sangat sederhana, sangat mudah untuk mengkaitkan serpihan-serpihan ini menjadi sebuah kesatuan yang besar. Istilahnya sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia.

Bagaimana jika penguasa & aparatnya berusaha memblokir / menyunat infrastruktur rakyat ini? Memang dalam sebuah perjuangan akan terjadi korban, tetapi apakah penguasa mampu mengebiri ribuan instalasi infrastruktur rakyat? Apakah penguasa mempunyai cukup tenaga / sumber daya manusia? Belum resiko menghadapi perlawanan rakyat & media yang jelas akan memojokan penguasa? Dengan perhitungan sederhana akan terlihat bahwa penguasa yang jumlah personil maupun pamor-nya jauh berada di bawah jumlah rakyat, akan sangat mudah di tumbangkan oleh keberadaan infrastruktur telekomunikasi rakyat. Strategi perang semesta telekomunikasi rakyat akan merupakan strategi yang paling ampuh melawan & memojokan arogansi penguasa.

Secara hukum, infrastruktur telekomunikasi rakyat, seperti RT/RW-net, Mall-net, Perkantoran-Net, Kecamatan-Net, Kelurahan-Net, Pendidikan-Net merupakan infrastruktur telekomunikasi yang paling bebas, bahkan sering kali dapat di bangun tanpa perlu ijin sama sekali. Contohnya, hanya penguasa yang sangat gila yang akan mengharuskan ijin penyambungan dua (2) komputer di rumah yang bertetangga. Hanya penguasa yang gila yang mengharuskan ijin bagi penggunaan internet telepon di rumah kita masing-masing. Kita perlu menyadari bahwa sebetulnya kita merdeka, terutama jika kita membangun infrastruktur kecil & merakyat karena akan sangat sulit di jangkau oleh tangan aparat penguasa. Dengan keterbatasan yuridis formal yang ada, penguasa hanya akan menjamah instalasi / infrastruktur publik, tapi tidak pada infrastruktur non-publik (privat).

Basis utama teknologi infrastruktur rakyat ini adalah komputer (PC), teknologi LAN, teknologi internet wireless & internet telephony. Investasi yang dibutuhkan menjadi sangat murah, bahkan lebih murah daripada sebuah WARNET karena beban investasi di tanggung oleh masing-masing rumah / kantor. Memang demikian adanya untuk sebuah RT/RW-net, beban investasi peralatan menjadi sangat murah.

Secara umum dapat di gambarkan secara berurutan, di ujung pengguna kita dapat menggunakan komputer (PC) biasa. Jika dibutuhkan dapat di sambungkan ke peralatan VoIP seperti Internet Phonejack, Internet Linejack, voipblaster yang harganya US$30-an agar kita dapat menelepon menggunakan handset telepon biasa. Untuk sebuah kecamatan di pedesaan hal mungkin hanya dapat diganti menjadi sebuah peralatan VoIP gateway yang murah dari planet (www.planet.com.tw) yang di sambungkan pada peralatan PABX & handset telepon biasa agar pengguna di pedesaan tersebut dapat tersambung ke jaringan telepon tanpa perlu tahu bahwa mereka menggunakan VoIP & komputer. Jadi hanya dibutuhkan beberapa puluh & ratus US$ tambahan untuk memberikan servis 1-10 sambungan telepon.

Sentral telepon gratisan berupa software seperti di http://www.openh323.org yang biasanya sudah tersedia di Linux & dapat di operasikan di komputer yang kita gunakan. Software sentral telepon ini dapat mengenali nomor telepon +62 21 123 4567, sehingga kita dapat dengan mudah berkomunikasi dengan cara menekan nomor telepon seperti layaknya telepon biasa saja.

Tinggal yang kita perlu bangun adalah sambungan jarak jauh 5-7 km-an, hal ini dapat dengan mudah terbangun dengan menggunakan teknologi internet wireless LAN (WLAN) yang berbasis IEEE 802.11b. Investasi Rp. 3.5 s/d 10 juta per sambungan internet wireless memungkinkan kita untuk membangun sambungan berkecepatan tinggi 1-11Mbps yang cukup untuk membawa beberapa ratus saluran telepon. Beberapa card WLAN untuk keperluan komunikasi luar ruangan pada hari dapat diperoleh dengan murah seharga US$65-75 /card. Gilanya sebagian antenna dapat dibuat sendiri, bahkan rekan-rekan di Jogya yang kreatif pada hari ini telah membuat sendiri dari antenna kaleng susu. Untuk jarak lebih jauh s/d 20-30 km dapat pula di bangun menggunakan teknologi internet wireless LAN IEEE 802.11b dengan perencanaan yang lebih teliti.

Sambungan jarak jauh lebih baik bertumpu pada infrastruktur satelit, karena kita menjadi bebas dari berbagai hambatan birokratis yang ada. Memang infrastruktur satelit relatif mahal, bisa mencapai sekitar US$4500-5000 / Mbps / bulan. Tapi jika di share oleh banyak node, misalnya dibagi oleh 10-20 WARNET menjadi sangat feasible sekali secara finansial.

Jika kita perhatikan dalam strategi ini tidak digunakan sama sekali operator telekomunikasi Indonesia, kecuali untuk sambungan satelitnya yang mungkin akan menggunakan operator asing. Sisanya adalah infrastruktur swadaya masyarakat yang kecil & banyak. Hal ini akan sangat menyulitkan bagi penguasa untuk melakukan pemaksaaan & penggerebekan.

Kunci keberhasilan terletak pada kepandaian rakyat Indonesia dalam mengoperasikan infrastruktur tersebut, oleh karena itu proses edukasi masyarakat menjadi sangat penting & strategis, di samping keberhasilan mensupply peralatan yang dibutuhkan ke masyarakat. Memang harus melalui banyak pengorbanan untuk mencapai proses edukasi yang baik, karena kita harus rela melepaskan semua ilmu yang ada ke masyarakat baik melalui CD-ROM, Web, seminar, diskusi mailing list, workshop, talkshow dll.

Perjuangan memang masih panjang, tapi dengan jumlah massa pengguna internet wireless yang pada hari ini mungkin sudah ribuan akan cukup sulit untuk membendung gerakan infrastruktur telekomunikasi rakyat. Merdeka Bung!!!

Tips Membangun Bisnis Online ( E-Business )

Sumber : Detikcom

Berbisnis didunia maya ( internet ) memasuki fase kedua setelah dulu sempat booming pada tahun 2000 awal. Ingin ikut serta menjual jasa atau barang Anda di Internet ? Ada beberapa tips seperti dibawah ini

1. Rancang Bisnis dengan Cermat

Rancang rencana bisnis online Anda dengan cermat. Pertimbangkan segala aspek seperti target pasar, kemampuan pesaing, sumber daya, bagaimana membangun loyalitas konsumen atau menjalin kemitraan strategis. Pakai referensi memadai, misalnya belajar dari situs bisnis di internet.

2. Temukan Sasaran Pasar Spesifik

Bisa jadi ide bisnis online Anda brilian, namun itu tak ada artinya jika tidak ada sasaran pasar yang spesifik. Temukan celah pasar yang belum digarap pesaing. Jika Anda bertarung dengan pemain besar, pastikan bisnis Anda memiliki diferensiasi yang menarik konsumen.

3. Cari Sumber Keuangan

Rencanakan dari mana Anda akan mendapat modal sebagai sumber dana bisnis online. Pinjaman bank bisa jadi pilihan yang baik. Jangan lupa untuk membuat administrasi keuangan yang rapi sehingga arus keluar masuk tampak jelas.

4. Buat Situs yang Handal

Anda memang bisa memanfaatkan blog yang gratis untuk memulai bisnis. Namun jika berniat serius, belilah domain dan sewa perancang situs yang handal. Pastikan situs Anda tidak rumit, memudahkan pengakses serta selalu update.

5. Promosi Jitu

Salah satu aspek terpenting dalam bisnis online adalah promosi yang jitu. Bisa dicoba bermacam metode, misalnya via Google AdWords di mana pengiklan hanya membayar sesuai jumlah pengakses situsnya. Manfaatkan pula e-mail atau situs jejaring untuk mempromosikan bisnis Anda pada banyak orang.

6. Permudah Transaksi Konsumen

Konsumen harus dimudahkan dalam melakukan transaksi dan pemesanan di situs Anda. Berikan pula tingkat keamanan situs yang memadai sehingga konsumen percaya detail identitas mereka tidak bocor. Tanpa transaksi dari konsumen, bisnis Anda pasti ambruk.

7. Motivasi untuk Terus Maju

Selalu butuh waktu agar bisnis internet berkembang. Sebagai entrepeneur online, Anda perlu energi, antusiasme, determinasi, dan gairah untuk maju. Perlu disadari bahwa sukses besar di bisnis internet cukup langka. Namun tak perlu pula kecil hati karena cerita kesuksesan bisnis online sudah amat banyak.

Keberhasilan Bakso Cak Man

Sumber : KarirUP

Ditulis oleh : Rahmat Saepulloh

Abdul Rahman Tukiman – Bocah gunung yang satu ini masa kecilnya dijalani dengan kemiskinan. Beruntung, dari usaha berdagang bakso malang ia kini mejadi pengusaha sukses. Masa kecilnya dilalui di suatu dusun kecil yaitu desa Sumurup, Kecamatan Bendungan, Trenggalek, Jawa timur. Desa itu boleh dibilang secara ekonomi kurang maju. Selain karena terpencil juga kondisi alam sekitarnya yang berbukit batu dan gersang sehingga kurang menguntungkan bagi pertanian. Namun ditengah serba tidak menyenangkan tersebut, menumbuhkan jiwa tangguh, tahan menderita, tidak mudah mengeluh dan tidak pernah mau menyerah dalam diri seoarang anak yang bernama Abdul Rahman Tukiman.

Dilahirkan pada tanggal 4 April 1961 dari pasangan Bapak Saimun dan Ibu Paijem ini, masa kecil Abdul Rahman Tukiman bisa dibilang dilalui dengan cukup berat. Pasalnya, meski orang tuanya memiliki sawah ladang yang cukup luas namun sejak usia 9 tahun ia sudah menjadi anak yatim. Otomatis, sawah ladang yang luas itu pun menjadi semakin seperti tidak bertuan karena tidak ada yang mengelola. Sementara, kakak, adik dan ibunya masih tetap harus makan dan bertumpu pada hasil sawah ladang tersebut. Tidak ada jalan lain, akhirnya untuk menyambung hidup terpaksa petak demi petak sawah telah habis digadaikan. Akibatnya, kehidupan keluarga ini menjadi tidak menentu dan semakin terpuruk dari waktu ke waktu.

Namun kegetiran tersebut tidak lantas terus diratapi olah Cak Man begitu sapaan akrab Abdul Rahman Tukiman. Justru menjadi cambuk. Seiring usianya beranjak ramaja, berbekal tekad yang kuat anak ke 5 dari 8 bersaudara ini kemudian terlecut hatinya untuk keluar dari kemiskinan dengan meninggalkan desa tercinta untuk mengadu nasib di kota.

Waktu itu ia belum tahu mau pergi ke kota mana, apalagi uang saku yang dikumpulkan juga kurang. Dalam kondisi yang hampir putus asa, nasib baik pun datang. Tiba-tiba ada seorang pengusaha Bakso bernama Bapak Sumaji tengah mencari pemuda desa untuk diajak bekerja di Malang. Mendengar itu Cak Man tanpa pikir panjang pekerjaannya lantas menyambut tawaran tersebut.

Berdagang Bakso
Meski terasa berat meninggalkan Ibu dan keluarganya, langkah Cak Man tetap mantap untuk bekerja di Kota. Pertama menginjakkan kaki di Malang, semua pekerjaan dilakoninya. Mulai dari membantu memasak bakso, mencuci peralatan masak sampai menyiapkan bakso di rombong/gerobak-bakso yang akan dibawa juragannya berjualan keliling.

Lama-lama pekerjaan itu membosankannya, akhirnya ia pun berniat untuk ikut jualan Bakso keliling juga. “Pertama kali jualan tahun 1980 ketika masih berusia 19 tahun senang banget rasanya,” kisahnya. Tidak diduga, hasil jualan baksonya ternyata laris manis. Alhasil, sejak saat itu berjualan bakso, menjadi hari-hari yang terasa indah baginya karena pendapatannya melebihi apa yang didapatkan ketika masih membantu mencari kayu di desa.

Setelah melewati masa-masa susah dan senang berjualan bakso ditambah pengalaman ikut bersama 3 juragan, terpikir dalam hati Cak Man untuk berjualan sendiri. Karena setelah dihitung-hitung ternyata berjualan sendiri bakso sangat menguntungkan. Namun sekali lagi, semua terbentur modal. Waktu itu Cak Man tidak memiliki uang sama sekali untuk modal usaha. Baru pada 1984, bermodalkan hasil tabungannya selama 2 tahun sebesar Rp 77 ribu, Cak Man memberanikan diri membuka warung bakso. “Mulailah tahun itu saya berjualan bakso sendiri,” ujarnya.

Prinsipnya pada waktu itu sederhana, “Seperti orang belajar silat,” katanya. Berbekal pengalaman bekerja pada 3 juragan bakso yang masing-masing memiliki jurus andalan, tentunya ia juga bisa uga memiliki jurus ampuh yang merupakan penggabungan dari ketiga jurus andalan 3 pendekar tersebut. “Dengan mengkombinasikan kelebihan dari 3 juragan tersebut, saya yakin bahwa bakso buatannya menjadi jauh lebih unggul dan digemari masyarakat,” imbuhnya lagi.

Seperti halnya usaha-usaha lainnya, pada hari-hari pertama diwarnai ketidak-menentuan, hari ini ramai, hari berikutnya sepi. Menghadapi kondisi seperti ini, bukan malah menyurutkan hati Cak Man untuk berhenti berjualan tetapi makin menambah semangatnya untuk bagaimana membuat baksonya enak dimata pelanggan.

Sukses pun diraih
Kerja keras dan keuletannya membuahkan hasil. Warung baksonya setiap hari dibanjiri pelanggan. Cabang-cabang lain pun kemudian didirikannya. Kesuksesan lambat laun diraihnya Cak Man. Sampai akhirnya ia memfranchisekan usahanya dan pada Februari 2007 mendirikan PT Kota Jaya, untuk mengurusi manajemen usaha baksonya agar lebih modern. Hebatnya lagi, kini setelah 23 tahun usaha baksonya berjalan, ia telah memiliki 57 buah gerai dan mampu menyerap ratusan tenaga kerja. Dengan asumsi setiap gerai mempekerjakan 16 karyawan (di luar pemilik gerai), maka dengan 60 gerai yang ada saat ini, wong ndeso Cak Man mampu menampung jumlah tenaga kerja sebanyak : 57 x 16 = 960 orang.

Tidak hanya itu, kemana-mana ia kini sudah tidak lagi jalan kaki atau naik sepeda onthel. Ia sudah bisa naik mobil mewah lengkap dengan driver yang selalu siap mengantar kemana ia pergi. Rumahnya pun sangat besar terdiri dari dua lantai seluas 1000 m2. Istrinya adalah Hj. Mariyah Maryatun. Anak pertamanya, Andik Purwanto sedang menyelesaikan kuliahnya di FIA, Universitas Brawijaya, Malang. Anak kedua, Yuli Nur Avianti yang masih duduk di bangku SLTA, dan anak ketika Cantika Putri Rahmadani masih balita. Meski semua telah diraih, Cak Man tak lantas lupa dengan asal muasalnya yang wong ndeso dan katro. Ia masih rendah hati dan santun terhadap siapapun.

Cak Man mengakui, selama merintis usaha banyak hal berkesan yang pernah dialaminya, terutama pada tahun 1990 – 2000. Contohnya, pada 1993 ia dari hasil jualan bakso ia berhasil membeli mobil bekas buatan tahun 1986. Namun karena rumahnya masih di dalam gang kecil, maka setiap malam ia terpaksa tidur di dalam mobil sambil menunggu mobilnya yang diparkir di tepi jalan.

Disamping itu, ia juga berhasil membuka gerai baru di Jl. Ciliwung, Jl. Mayjen Wiyono dan di beberapa tempat lain di kotamadya Malang. Dari sinilah akhirnya mendudukkan Cak Man dengan Bakso Kotanya sebagai pedagang bakso-malang papan atas yang memiliki gerai terbanyak. Tidak hanya itu, Cak Man kemudian juga mampu membeli rumah di Jl. Kedawung II/11. Rumah baru tersebut disamping sebagai tempat tinggal juga sebagai tempat memasak dan penampungan para karyawannya.

Meski berasal dari desa di lereng gunung, Cak Man memiliki visi kedepan yang sangat kuat. Cak Man berkeyakinan bahwa setiap orang harus punya cita-cita dan untuk menggapainya perlu usaha yang sungguh-sungguh dibarengi dengan kemauan belajar kepada siapapun.

“Kunci saya membangun usaha hingga sebesar adalah senantiasa meningkatkan mutu dan layanan, membuat inovasi baru (semula hanya 6 varian saat ini sudah 22 varian), sering mengikuti kegiatan pelatihan, mematenkan merek dagang dan menerapkan manajemen modern,” ujarnya.

Lebih dari itu yang tak kalah penting dan selalu dipegang teguh Cak Man adalah selalu berpikir untuk jangka panjang. “Dahulu kalau hanya berjualan bakso tradisional, saya tidak perlu melakukan macam-macam. Sekarang, tidak bisa diam begitu saja.

Sekarang, Bakso Kota Cak Man sudah memposisikan diri sebagai salah satu resto cepat saji asli Indonesia yang berjuang untuk dapat bersaing dengan resto cepat saji mancanegara seperti KFC, McDonald, Hoka-hoka Bento dan lain sebagainya. Jadi, saya harus berbenah diri untuk meningkatkan kualitas produk dan layanan,” terangnya.

Hari Anak Nasional

Sumber : Kompas

Ditulis oleh : R Valentina Sagala

Tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional, sementara 24 Juli adalah peringatan diratifikasinya Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women/CEDAW) menjadi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984.

Dalam dinamika hak asasi manusia, istilah hak asasi anak maupun hak asasi perempuan lahir untuk menjawab bahwa pada kenyataannya cara pandang yang menyamaratakan laki-laki-perempuan, dewasa-anak, adalah kurang tepat. Kenyataan menunjukkan bagaimana anak-anak di berbagai belahan dunia mengalami kelaparan, kekerasan, ditelantarkan, dan seterusnya. Demikian pula perempuan mengalami diskriminasi, baik dalam keluarga, komunitas, maupun kehidupan bernegara.

Di Indonesia, misalnya, meski telah memiliki antara lain Undang-Undang (UU) No 4/1979 tentang Kesejahteraan Anak, UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak, UU No 3/1997 tentang Pengadilan Anak, Keputusan Presiden No 36/1990 tentang Ratifikasi Konvensi Hak Anak, realitas kesejahteraan anak masih jauh dari harapan. Kejadian busung lapar belum lama ini menyentak kita tentang buruknya kondisi anak. Belum lagi persoalan anak yang dipekerjakan di sektor pekerjaan terburuk, anak di wilayah konflik, korban perdagangan manusia, dan banyak lagi.

Persoalan menjadi rumit ketika anak mengalami diskriminasi berlapis. Pertama, karena dia adalah anak, dan kedua, karena perempuan. Di sinilah keberadaan anak perempuan diabaikan sebagai perempuan.

Organisasi Buruh Internasional (ILO) memperkirakan di Indonesia terdapat 4.201.452 anak (berusia di bawah 18 tahun) terlibat dalam pekerjaan berbahaya, lebih dari 1,5 juta orang di antaranya anak perempuan. Data IPEC/ILO memperkirakan terdapat 2,6 juta pekerja rumah tangga (PRT) di Indonesia dan sedikitnya 34,83 persennya tergolong anak. Sekitar 93 persennya anak perempuan (Kompas, 2/7/05). PRT anak perempuan berada dalam posisi rentan, mulai dari situasi kerja buruk, eksploitasi, hingga kekerasan seksual.

Di pedesaan, kemiskinan, pernikahan dini, minimnya pendidikan, dan kondisi kesehatan yang buruk mendorong anak perempuan terjerembab dalam prostitusi dan masuk dalam jerat perdagangan manusia.

Pernikahan pada anak perempuan terus berlanjut: 46,5 persen perempuan menikah sebelum mencapai usia 18 tahun dan 21,5 persen sebelum mencapai usia 16 tahun. Tingkat pernikahan dini ini jauh lebih tinggi di pedesaan. Survei terhadap 52 pekerja seks komersial di lokalisasi Dolly di Surabaya ditemukan bahwa lebih dari 25 persen dari mereka pertama kali bekerja berumur di bawah 18 tahun (Ruth Rosenberg, 2003).

Artinya, persoalan yang menimpa anak perempuan bukan hanya karena kemiskinan, melainkan kuatnya ideologi patriarkhi yang dianut negara maupun masyarakat yang terwujud bukan saja pada peminggiran perempuan sebagai jenis kelamin, melainkan juga mereka yang senantiasa terpinggirkan (the voiceless), seperti anak, masyarakat miskin pedesaan, minoritas, difabel, dan masyarakat adat.

Inilah mengapa gerakan feminis semestinya terus menajamkan perjuangannya terhadap persoalan yang dialami the voiceless. Kelompok perempuanlah yang mengusung tindakan khusus sementara (affirmative action) dalam instrumen HAM (Pasal 4 CEDAW). Kehadiran instrumen HAM anak dan perempuan, tidak saja mendesak ditegakkannya hak anak dan perempuan oleh negara, melainkan juga mengajukan cara pandang baru tentang HAM.

Ketentuan

Baik CEDAW maupun CRC telah memuat ketentuan tentang anak perempuan. Contohnya, Pasal 10 huruf (f) CEDAW yang menyebutkan, negara peserta wajib menghapuskan diskriminasi terhadap perempuan di bidang pendidikan, khususnya menjamin pengurangan angka putus sekolah anak perempuan dan penyelenggaraan program untuk anak perempuan yang sebelum waktunya meninggalkan sekolah.

Salah satu prinsip CRC, yaitu best interest of the child, dimuat secara eksplisit dalam CEDAW, seperti pada Pasal 16 Ayat (1) huruf (d) dan (f). Demikian pula ketentuan jaminan negara bahwa pertunangan dan perkawinan seorang anak tak akan memberi akibat hukum (Pasal 16 Ayat 2). Diskriminasi dan pelanggaran hak anak perempuan juga telah menjadi satu di antara 12 critical areas of concern Beijing Platform for Actions yang ditandatangani Pemerintah Indonesia tahun 1995.

Namun, apa mau dikata, teks tinggal teks. Berbagai persoalan peraturan perundangan yang ada pun belum sempat diurus pemerintah hingga kini. Sebagai contoh, ratifikasi CRC berupa keputusan presiden dikritik karena menjadi kendala saat Indonesia hendak meratifikasi instrumen hak anak lainnya di bawah CRC. CRC semestinya diratifikasi menjadi UU.

UU RI No 7/1984 masih menghadapi berbagai kendala. Selain soal reservasi Pasal 29 CEDAW tentang penyelesaian perselisihan penerapan dan penafsiran konvensi, Indonesia juga belum meratifikasi optional protocol yang mengatur pelaporan individu/organisasi nonpemerintah tentang pelanggaran terhadap konvensi, prosedur komunikasi, dan penyelidikan.

Memang, peraturan perundangan tidak ada artinya tanpa keseriusan negara menegakkan hak asasi perempuan dan anak. Ratifikasi beribu konvensi sia-sia jika tidak diwujudkan dalam kehidupan nyata. Jika keseriusan ini ada, dugaan saya, para pejabat tidak akan menutup-nutupi penderitaan rakyat, buang-buang uang negara untuk studi banding ke luar negeri, atau minta kenaikan tunjangan. Mereka akan sibuk mengerjakan pekerjaan rumah negeri ini: menegakkan hak asasi rakyat, khususnya anak dan perempuan.

Tiga Jalan Kumpulkan Modal

Sumber: Tabloid Nova

Ditulis oleh: Sefir Sendur

Modal yang Anda kumpulkan untuk usaha terbagi jadi 3: Modal Investasi Awal, Modal Kerja dan Modal Operasional. Betul? Sekarang masalahnya, mungkin ada beberapa orang yang setelah membaca tulisan itu, lalu jadi menggerutu sendiri: “Hmm…, ngitung modal sih memang gampang. Masalahnya sekarang, gimana caranya supaya modalnya bisa ada? Supaya bisa terkumpul?”
Ini memang bahasan menarik. Karena banyak orang kesulitan mengumpulkan modal usaha. Sebagai contoh, kalau seseorang ingin buka usaha laundry dengan memiliki mesin cuci sendiri, dan ia membutuhkan modal dana sebesar Rp 20 juta, sementara dananya sendiri baru Rp 3 juta, darimana ia bisa mengumpulkan modal?

Ada tiga jalan, kok, untuk mengumpulkan modal untuk usaha:

1. Modal Sendiri
Pertama jelas, kalau Anda ingin buka usaha, Anda bisa pakai modal sendiri. Caranya bisa dengan mengambil dari simpanan yang Anda miliki sekarang, entah dari tabungan atau deposito Anda, atau bisa juga dengan menjual aset yang Anda punya. Sebagai contoh, banyak lo orang yang menjual sepeda motornya untuk sekedar jadi modal usaha, atau menjual perhiasan yang dia punya.
Jangan kaget. Menjual barang untuk menambah modal usaha tuh biasa lo. Yang paling penting, jangan merasa terlalu sayang untuk menjual beberapa aset Anda untuk menambah modal usaha. Contohnya, kalau Anda tidak punya uang untuk modal usaha dan harus menjual perhiasan Anda, ya jual saja. Nanti kalau usaha Anda sudah berhasil, Anda toh bisa beli lagi perhiasan yang lebih bagus. Ya nggak?

2. Pinjam
Meminjam uang untuk modal usaha juga sering dilakukan orang. Dengan meminjam, seringkali usaha yang memang Anda impikan bisa lebih cepat terwujud. Iya dong, daripada nunggu modalnya enggak ngumpul-ngumpul, mendingan minjem. Cuma, nah ini dia, karena modal itu Anda dapatkan dengan meminjam, ya Anda betul-betul harus memperhatikan cash flow Anda. Ini karena Anda pasti harus mengembalikan uang yang Anda pinjam. Entah dengan mengembalikannya secara bulanan, 6 bulanan, atau mungkin tahunan.
Kuncinya, kalau Anda meminjam, perlu diketahui bahwa banyak orang yang seringkali terlalu fokus kepada bagaimana mereka bisa mendapatkan pinjaman, tetapi tidak memikirkan apa yang bisa mereka lakukan untuk mengembalikan pinjaman tersebut. Jadi, ketika meminjam, cobalah untuk memikirkan bagaimana caranya Anda bisa mengembalikan pinjaman tersebut.
Tipsnya, ketika Anda memikirkan caranya, jangan terlalu optimis bahwa pendapatan dari usaha Anda pasti bisa langsung besar di bulan-bulan pertama. Kalau perlu, buatlah perkiraan sepesimis mungkin. Dari perkiraan yang pesimis tersebut, Anda pasti bisa melakukan penilaian apakah pengembalian yang akan Anda lakukan nantinya bisa lancar atau tidak.

3.Kerja Sama
Wah, daripada Anda pakai modal sendiri semuanya, atau daripada Anda meminjam, kenapa Anda tidak mencoba menjalin kerja sama saja dengan orang lain? Dengan menjalin kerja sama, maka risiko usaha Anda bisa lebih kecil karena harus dibagi bersama teman-teman Anda. Cuma, keuntungan yang Anda dapatkan tentunya harus dibagi juga dong. Iyalah, namanya saja kerjasama. Artinya, risiko dibagi, keuntungan juga harus dibagi. Ya enggak?
Sekarang masalahnya, ada enggak orang yang mau kerjasama dengan Anda? Itu tergantung Anda. Apakah Anda bisa dengan baik menawarkan keuntungan yang masuk akal pada usaha yang Anda tawarkan. Tapi, tawaran keuntungan saja belum cukup lo. Anda juga harus bisa memberikan pendekatan yang baik, tidak sombong pada orang-orang yang ingin Anda ajak kerjasama.
Satu lagi, kalau bisa, penjelasan yang Anda berikan juga harus masuk akal, seadanya, dan tidak melulu memaparkan keuntungan pada orang yang ingin Anda ajak kerjasama.

Nah, sekarang, Anda sudah tahu bagaimana mengumpulkan modal untuk membuka usaha. Mudah-mudahan dari 3 pilihan tersebut diatas, Anda bisa menentukan pilihan mana yang terbaik.

Makna Proklamasi

Sumber : Kompas

Ditulis Oleh : Oleh Hassan Wirajuda

Sebentar lagi seluruh bangsa Indonesia memperingati dan merayakan Hari Proklamasi Ke-63 Kemerdekaan Indonesia. Naskah proklamasi kemerdekaan dibacakan dan bergaung kembali di seantero Nusantara. Bahkan oleh seluruh perwakilan Indonesia akan digemakan di seluruh dunia. Tetapi sempatkah kita mengkaji makna terdalam yang masih tersembunyi dari dua kalimat yang tampak sederhana itu?

Coba tilik sejenak naskah proklamasi yang sakral, singkat, dan bernas itu. “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal tentang pemindahan kekuasaan dan lain- lain dilaksanakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.

Dua kalimat pendek itu sarat makna. Pemilihan kata-katanya cermat. Perhatikan kata kerja kedua kalimat itu. Pada kalimat pertama, kata kerja menyatakan (to declare) dapat mengundang pertanyaan apakah kemerdekaan memang dapat dinyatakan begitu saja? Secara ringan kita tentu akan menjawabnya “ya”, tetapi tidak pada 63 tahun lalu. Secara politis dan militer, situasi menjelang detik-detik proklamasi tidak mudah karena secara de facto Indonesia masih di bawah pendudukan militer Jepang. Sejak Jepang menyerah kepada sekutu pada 14 Agustus 1945, secara de jure semua daerah pendudukan Jepang beralih kepada tentara sekutu.

Bagi para pendiri negara kita, pilihan kata menyatakan kemerdekaan merupakan cermin dari keyakinan yang amat kuat, yang muncul dari pengalaman bangsa Indonesia hidup beratus-ratus tahun di bawah penjajahan. Bahwa kemerdekaan merupakan hak suatu bangsa, kemudian tercantum dalam kalimat pertama Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang tegas menyatakan “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan, oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri keadilan”.

Piagam Jakarta dan Piagam PBB
Konsepsi kemerdekaan sebagai hak sudah bulat disepakati para pendiri negara, dua bulan sebelum Hari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Kalimat pertama Pembukaan UUD 1945 yang disahkan 18 Agustus 1945 sudah mantap keberadaannya dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945.

Makna penting pilihan kata menyatakan itu akan lebih dapat kita hargai apabila dibandingkan dengan konsepsi tentang kemerdekaan yang berkembang pada tataran internasional saat itu. Ketika para pendiri Republik menggodok konsep dasar negara dan rancangan UUD 1945 pada sidang-sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang bersidang di Jakarta 28 Mei 1945-22 Agustus 1945 di Gedung Tyuoo Sangi-In (kini Gedung Pancasila, Departemen Luar Negeri). Hampir bersamaan dengan itu, juga berlangsung suatu konferensi The United Nations Conference on International Organizations (UNCIO) di San Francisco, AS, pada 25 April 1945 yang menghasilkan Piagam PBB. Piagam PBB disahkan dan ditandatangani 26 Juni 1945, hanya empat hari setelah Piagam Jakarta.

Proses pembahasan dasar negara dan UUD oleh BPUPKI dan PPKI pada tataran nasional, dan proses oleh UNCIO yang merancang Piagam PBB pada tataran internasional, sama-sama bertujuan menciptakan tatanan baru yang ingin ditegakkan sesudah berakhirnya Perang Dunia II. Yang satu tatanan nasional dan lainnya tatanan internasional. Aneh tetapi nyata. Di Indonesia dari pengalaman hidup ratusan tahun di bawah sistem penjajahan, para pendiri republik sampai pada keyakinan, kemerdekaan ialah hak segala bangsa.

Sementara pada tataran internasional, dari pengalaman tragedi kemanusiaan yang mengakibatkan enam juta orang terbunuh dan terluka pada PD II, masyarakat internasional melalui UNCIO sama sekali tidak berbicara tentang kemerdekaan sebagai hak. Hasil UNCIO, seperti tertuang dalam Piagam PBB (mulai berlaku 24 Oktober 1945) berbicara tentang prinsip self determination, namun saat itu diartikan hanya sebagai self rule, semacam otonomi, dan tidak pernah dimaksudkan sebagai “hak untuk merdeka”. Dokumen konferensi (travaux preparatoire) UNCIO jelas menggambarkan alur perdebatan yang mengartikan begitu. Kemerdekaan hanya dimungkinkan atas persetujuan (by agreement) dari negara penjajah. Dan sesuatu yang harus diperjanjikan lebih dulu itu jelas bukan suatu hak.

Seperti kita ketahui, butir-butir pikiran yang masih berusaha melanggengkan kolonialisme dalam konferensi di Dumbarton Oaks (dekat Washington, DC) setahun sebelumnya amat mewarnai naskah Piagam PBB itu. Tenggelam sudah Doktrin Wilson (1914) yang berbicara tentang self determination dan janji-janji untuk memerdekakan bangsa-bangsa terjajah seperti dimuat dalam Atlantic Charter (14 Agustus 1941) menjelang PD II berakhir. Pada konferensi UNCIO, meski AS dan Australia ingin memberi makna self determination sebagai hak untuk merdeka, namun sembilan negara Eropa yang telah porak poranda akibat perang masih ingin meneruskan kembali penjajahannya. Negara-negara jajahan ingin terus dijadikan sumber bahan mentah yang murah bagi rekonstruksi mereka pasca perang.

Dengan kata lain, konsepsi kemerdekaan sebagai hak telah dikesampingkan Piagam PBB. Pernyataan kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan 59 tahun lalu, bukanlah hak yang diakui hukum internasional!

Kita patut berbangga dengan pemikiran dan inovasi para pendiri Republik kita, sebab baru 15 tahun kemudian, tahun 1960, melalui Resolusi Majelis Umum PBB No 1514 ada pengakuan akan hak bangsa-bangsa terjajah untuk merdeka.

Kalimat kedua Proklamasi

Para perancang naskah Proklamasi memilih kata “pemindahan kekuasaan”. Mengapa tidak dipilih, misalnya, kata “serah terima”? Pemilihan kata “pemindahan” merupakan konsekuensi logis dari makna kalimat pertama, bahwa kemerdekaan yang dinyatakan itu adalah hak kita. Kata “memindahkan” merupakan tindak sepihak. Karena itu kita tidak memerlukan persetujuan siapa-siapa.

Berbeda dengan pengertian “serah terima”, yang merupakan tindakan dua pihak, antara yang menyerahkan dan yang menerima. Yang belakangan ini sejalan dengan konsepsi kemerdekaan atas persetujuan (by agreement) yang diinginkan negara-negara penjajah. Kalau konsep ini yang diterima, maka seperti dikatakan Gubernur Jenderal Hindia Belanda van Mook pada 1942, Indonesia memerlukan 100 tahun lagi untuk merdeka, berarti tahun 2042 dan itu masih 34 tahun dari sekarang!

Karena perbedaan konsepsi atas kemerdekaan itulah, kita tidak pernah nyaman dengan penggunaan istilah “penyerahan kedaulatan” berdasar hasil Konferensi Meja Bundar pada Desember 1949. Konsepsi “serah terima” kekuasaan sebenarnya bertentangan dengan makna Proklamasi.

Dimensi internasional

Proklamasi mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia. Dengan pernyataan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 kesadaran kebangsaan Indonesia memuncak menjadi kemauan bulat bangsa untuk mewujudkan kedaulatannya. Esok harinya, 18 Agustus 1945, kelengkapan negara yang baru diproklamasikan itu disempurnakan. Hampir lengkaplah Indonesia sebagai suatu negara: memiliki wilayah, pemerintahan, dan rakyat. Masih satu lagi persyaratan bagi sebuah negara menurut hukum internasional yang belum dipenuhi, yakni pengakuan (recognition) dari masyarakat internasional.

Di dalam negeri, eksistensi fisik negara harus terus diperjuangkan. Membonceng pasukan sekutu yang kembali ke Indonesia untuk melucuti tentara Jepang, Belanda datang untuk memulihkan kembali kedaulatannya atas Hindia Belanda yang ditinggalkannya tahun 1942. Perlawanan tentara dan rakyat bersenjata amat mewarnai upaya mempertahankan eksistensi negara RI yang baru dilahirkan, khususnya periode 1945-1949. Tetapi perjuangan fisik hanya satu sisi dari satu mata uang. Sisi lainnya, diplomasi, yang tidak kurang sulitnya.

Kesulitan paling besar sebetulnya bukan karena berhadapan dengan Belanda saja, tetapi justru dengan tatanan internasional (termasuk hukum internasional) yang belum mengakui hak bagi negara-negara untuk merdeka. Karena itu, tantangannya luar biasa. Konsepsi tentang hak bangsa terjajah untuk merdeka yang ditampilkan para pendiri Republik memang revolusioner, sebab ia jauh di muka dibandingkan zamannya.

Yang kemudian perlu diperjuangkan oleh diplomasi Indonesia tidak hanya memperoleh pengakuan bangsa-bangsa lain atas eksistensi negara yang baru diproklamasikan, tetapi juga konsepsi akan hak bangsa untuk merdeka. Ini yang membedakan dengan banyak bangsa terjajah lainnya yang merdeka tahun 1960-an, yang dengan relatif mudah memperoleh pengakuan banyak negara lain.

Bersandar pada hukum internasional yang lama, Belanda jelas menolak proklamasi kemerdekaan Indonesia karena itu menolak eksistensi negara Republik Indonesia. Bagi mereka, apa yang terjadi di Indonesia hanya bagian dari persoalan di bagian belakang (backyard) mereka. Karena itulah sepanjang pembicaraan masalah Indonesia (Indonesian Question) di Dewan Keamanan PBB (1947-1950) dalil-dalil Belanda mengenai apa yang terjadi di Indonesia hanya sebagai urusan domestik (domestic jurisdiction) mereka. Karena itu pula serbuan oleh militer Belanda atas wilayah Republik tahun 1947 dan 1948 mereka sebut sebagai aksi polisional, bukan agresi militer.

Sebagai konsekuensi proklamasi, yang harus diperjuangkan adalah pengakuan atas eksistensi negara secara keseluruhannya (negara kesatuan), yang wilayahnya mencakup seluruh bekas Hindia Belanda. Namun, dalam kenyataannya, menghadapi realitas politik yang tidak mudah, terutama kesulitan-kesulitan yang dihadapi di front perjuangan fisik-dan tidak kurang pula di front diplomasi seperti digambarkan di muka- tesis-tesis yang bersumber dari proklamasi itu kemudian juga bergeser, setidaknya atas alasan taktis. Dalam kurun lima tahun sejak 1945, tesis negara kesatuan bergeser menjadi federal, bahkan dari tesis pemindahan kekuasaan menjadi “serah terima” kekuasaan menyusul kesepakatan pada Konferensi Meja Bundar tahun 1949.

Namun sejarah telah membuktikan, semangat proklamasi kemerdekaan itulah yang senantiasa kuat dan mengemuka. Tidak sampai satu tahun, penyesuaian taktis itu, lalu secara strategis dikoreksi. Pada 17 Agustus 1950 Indonesia kembali menjadi negara kesatuan. Dan dengan Indonesia menjadi anggota PBB pada September tahun yang sama, Indonesia akhirnya diakui negara-negara lain, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Dirgahayu Republik Indonesia!

Menghadapi Perubahan yang Permanen

*) Ditulis oleh Hermawan Kertajaya

Setiap kali ketemu orang, saya selalu bertanya opini mereka tentang harga minyak yang sedang menggila ini. Juga soal inflasi yang mendadak tanpa diduga lebih dulu.

Jawabannya macam-macam. Salah satu eksekutif di bidang properti mengatakan kepada saya bahwa cost memang akan naik. Semua bahan bangunan dan biaya lainnya naik. Pada saat bersamaan, tingkat bunga juga naik terus. Akibatnya, beban orang yang membeli properti dengan cara kredit ikut naik.

Tapi, rata-rata mereka mengatakan bahwa tingkat bunga yang seperti itu is still ok. Sebab, kenaikan cicilan per bulan masih sedikit. Pak Ciputra lah yang mengatakan bahwa kalau bunga naik lagi satu persen, pengaruhnya akan cukup besar. Bank Indonesia pasti akan berhati-hati dalam hal itu.

Susahnya, sampai sekarang, obat favorit untuk menjinakkan inflasi masih tetap dengan cara menaikkan rate. Solusinya? Ya penghematan terhadap segala sesuatu yang bisa dihemat tanpa mengurangi kualitas. Margin sepertinya memang harus direlakan untuk turun. Tapi, kalau memang ada kesempatan menaikkan harga, ya memang harus dilakukan. Kalau terlambat, ke depan susah untuk naik.

Yang menarik, rusunami tetap mempertahankan harga Rp 144 juta. Angka keramat. Tapi, beberapa fasilitas di dalam unitnya dikurangi. Apartemen yang harganya mahal tetap saja kenceng. Sebab, segmen atas tidak terpengaruh, asal konsep yang dijual kreatif.

Bagaimana low cost airline? Salah seorang petinggi airline mengatakan bahwa naiknya minyak cukup bikin pusing. Minyak bisa punya porsi 60 sampai 70 persen dari seluruh cost. Bahkan, itu bisa 80 persen kalau harga minyak naik terus dan harga tidak bisa naik secara seimbang.

Solusinya? Balik lagi, sesuai karakter bisnisnya, ya meningkatkan efisiensi. Ternyata, pesawat bisa diterbangkan lebih lambat sedikit, tapi bisa menghemat biaya minyak cukup banyak. Efisiensi di bidang lain juga tetap dicari. Misalnya, mencari rute baru.

Saat ini, Bali menjadi hub baru yang banyak dipertimbangkan banyak low cost airline. Sebab, Bali tidak pernah krisis. Malah, karena harga traveling naik, orang yang biasa keluar negeri beralih ke Bali. Turis asing juga merasa lebih murah berlibur ke Bali. Berdasar hasil survei Singapore Airlines, ditemukan bahwa 60 persen orang Eropa dan Rusia yang terbang ke Singapura sebenarnya ingin ke Bali. Hebat kan? Low cost airline juga melihat akan terjadi migrasi penumpang. Dari yang terbiasa menggunakan airline akan pindah budget airline.

Saya juga sempat mengajak diskusi orang dari industri operator seluler. Komentar mereka? Kalau ongkos rutin maupun investasi naik terus, teknologi CDMA akan menang. Sebab, selain teknologinya lebih kaya dari GSM, investasinya lebih irit. Untuk coverage yang sama, CDMA hanya membutuhkan satu BTS, sedangkan GSM delapan BTS.

Selain itu, paket-paket yang lebih hemat akan makin banyak. Bukan sekadar cheaper with the same product, tapi juga smart product. Salah satu contoh menarik adalah Rp 1 per karakter untuk SMS dari Esia. Instead of bayar Rp 250 untuk 160 karakter. Sekarang, kalau hanya kirim pesan singkat “OK”, ya cukup bayar Rp 2. Apalagi kalau cuma “K” yang artinya sama dengan “OK”, bayarnya cukup Rp 1.

Komunikasi juga harus lebih smart. Above the line dikurangi, meski masih tetap penting untuk menjaga brand image. Tapi, tetap harus pintar dalam spending-nya. Kontes cara menghemat SMS juga smart karena melibatkan customer untuk punya ide kreatif, kemudian disebar ke customer lain.

Inilah yang saya sebut bahwa marketing itu memang sedang beralih dari yang bersifat one-to-many/vertical ke arah many-to-many/horizontal. Selain itu, kontrol untuk mengetahui apakah sebuah program berjalan efektif dilakukan harian, tidak lagi bulanan. Begitu diketahui tidak efektif, langsung dihentikan atau diubah. Langsung!Itu memang bukan survei komprehensif, tapi justru “sensing” semacam ini yang penting. Saya bagikan di sini agar Anda juga bisa punya ide untuk menghadapi semester dua yang tidak gampang ini. Yang pasti, dari semua orang yang saya ajak bicara -bukan cuma tiga di atas- mereka cukup optimistis.

Tidak seperti pada 2006, ketika harga bensin naik 100 persen, atau bahkan 1998. Krisis kali ini lebih bersifat global dan permanen. Sesudah ini, semua pasti harus berubah dalam cara menjalankan bisnis dan marketing. Maka, saya selalu menyarankan agar kita bisa mengatakan welcome new wave marketing.

Kita perlu mentalitas, paradigma, dan perilaku baru. Bukan hanya untuk survive di semester dua tahun ini, tapi agar bisa sustainable di new world ini.

The MarkPlus Festival 10 Juli nanti didesain untuk memberikan penjelasan tentang hal itu. Dengan mendengarkan speakers dari berbagai industri, Anda akan belajar banyak dan mengerti wisdom mereka. Ingat, creative ideas always come from other industries. Bagaimana pendapat Anda? (*)