Gotong Royong

*) Ditulis oleh Tommy Sudjarwadi ( Majalah Swa )

Gotong royong adalah ungkapan khas Indonesia yang sudah jarang kita dengar sekarang. Meskipun digali oleh Bung Karno, serta pernah dijadikan nama kabinet dan DPR, gotong royong kini bukan lagi sebuah ungkapan yang bergengsi. Padahal gotong royong adalah pilihan yang layak dipertimbangkan dalam menghadapi ancaman kita bersama saat ini, yakni: mahalnya biaya hidup akibat kenaikan harga minyak dunia. Gotong royong dilakukan di atas semangat saling memberi, yang mengutamakan memberi ketimbang meminta. Gotong royong ditopang jiwa empati yang kuat untuk menomorduakan ego. Mudah memahami bahwa orang lain lebih memerlukan sesuatu dibanding diri kita. Gotong royong adalah tiang utama interdependensi.

Para penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Semarang beberapa waktu yang lalu telah memberi teladan gotong royong kepada kita. Di tengah ketidakpastian cukup-tidaknya BLT yang mereka terima untuk bertahan hidup, mereka membagi BLT yang tidak seberapa besarnya itu dengan beberapa warga miskin lainnya yang tidak terdaftar namanya sebagai penerima BLT. Sama sekali tidak ada perdebatan mengenai siapa yang lebih berhak. Mereka menunjukkan kecerdasan emosional yang sangat tinggi dalam membangun daya tahan hidup bersama. Kelompok masyarakat seperti ini umumnya masih jarang bersentuhan dengan pola interaksi global yang mengutamakan persaingan dan persaingan semata.

Dalam persaingan yang sempurna, setiap entitas dalam arti luas – seperti individu, kelompok buruh, asosiasi pengusaha, partai bahkan negara dan kelompok negara – dituntut menunjukkan prestasi dan eksistensi diri. Masing-masing menjadi sangat independen. Ruang untuk menjalin kerja sama yang tulus dalam menyolusi masalah bersama semakin lama kian mengecil. Meskipun begitu, tunas-tunas kerja sama mulai tumbuh dalam dekade terakhir untuk menanggulangi pemanasan global yang mengancam setiap penghuni bumi.

Setelah mengalami beberapa kali, kita cukup mafhum bahwa pasca-kenaikan harga BBM bakal ada badai kenaikan harga dan biaya hidup yang serius. Akibatnya beberapa perusahaan dapat diserang kepailitan dan PHK menjadi pilihan yang tak terhindarkan. Ancaman ini menghadang setiap perusahaan. Tentu dimulai dengan perusahaan yang paling lemah. Mungkin sekaranglah saatnya kita mempertimbangkan kearifan lokal yang kita miliki: bergotong royong menghadapi krisis kenaikan harga agar perusahaan dan karyawan sama-sama survive.

Semangat gotong royong sebagaimana layaknya setiap inisiatif di perusahaan harus dimulai dari tingkat puncak. Direksi dan manajemen puncak harus mulai bersedia berkorban untuk menjaga supaya para pekerja di tingkat bawah tetap dapat hidup secara layak. Jadwal penggantian mobil dinas, telepon genggam dan berbagai fasilitas yang sah untuk dilakukan sesuai dengan peraturan perusahaan tentu dapat ditunda sementara. Bahkan gaji untuk kelompok ini dapat “dibekukan” sementara atau diturunkan guna dialokasikan bagi kelompok bawah yang sangat memerlukan penyesuaian pendapatan. Perjalanan dinas dengan menggunakan kelas eksekutif beramai-ramai dapat dihemat dengan menggunakan kelas ekonomi atau diganti telekonferensi. Langkah apa pun yang dapat dilihat sebagai niat baik untuk melakukan penghematan perlu ditunjukkan kepada semua karyawan.

Dengan inisiatif semacam itu diharapkan para pekerja tersentuh hatinya dan bersedia bekerja maksimal, serta memberikan yang terbaik untuk menyelamatkan perusahaan. Dari kelompok pekerja dapat muncul berbagai langkah penghematan yang luar biasa. Pemakaian kertas, listrik, telepon dan biaya overhead dapat ditekan. Empati dari manajemen puncak akan dibalas dengan kesetiaan dan laku prihatin yang mendalam. Tidak tertutup kemungkinan dilakukan langkah spiritual yang nyata seperti berdoa bersama oleh para karyawan untuk keselamatan dan kemajuan perusahaan.

Sebuah rumah makan bergaya etnik di Bandung telah berdiri selama lebih dari 30 tahun. Dimulai dengan nama toko bakmi You. Mayoritas karyawan di sana memiliki masa kerja lebih dari 10 tahun bahkan beberapa melampaui 20 tahun. Mereka menjaga semangat gotong royong yang kental. Meminjam uang dari perusahaan untuk berbagai keperluan lazim dilakukan. Namun, mereka melakukannya secara bergiliran dan dirembuk dengan penuh empati antarkaryawan. Wajah mereka ketika melayani tamu tidak menunjukkan rona pekerja atau pelayan. Mereka lebih memosisikan diri sebagai tuan rumah. Rumah mereka toko You.

Di tengah pasang-surut hubungan pengusaha-pekerja yang sering kurang harmonis dalam 10 tahun terakhir, kenaikan harga BBM tentu akan memicu hubungan yang lebih pahit. PHK dan pemogokan telah terbukti bermuara pada hasil yang “kalah-kalah” dalam bentuk pengusaha merugi dan pekerja kehilangan pekerjaan. Inilah saatnya kita mempertimbangkan kembali kearifan lokal yang sering kita anggap usang: gotong-royong. Tidakkah kita lebih cerdas secara emosional dibanding para penerima BLT di Semarang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: