Menghadapi Perubahan yang Permanen

*) Ditulis oleh Hermawan Kertajaya

Setiap kali ketemu orang, saya selalu bertanya opini mereka tentang harga minyak yang sedang menggila ini. Juga soal inflasi yang mendadak tanpa diduga lebih dulu.

Jawabannya macam-macam. Salah satu eksekutif di bidang properti mengatakan kepada saya bahwa cost memang akan naik. Semua bahan bangunan dan biaya lainnya naik. Pada saat bersamaan, tingkat bunga juga naik terus. Akibatnya, beban orang yang membeli properti dengan cara kredit ikut naik.

Tapi, rata-rata mereka mengatakan bahwa tingkat bunga yang seperti itu is still ok. Sebab, kenaikan cicilan per bulan masih sedikit. Pak Ciputra lah yang mengatakan bahwa kalau bunga naik lagi satu persen, pengaruhnya akan cukup besar. Bank Indonesia pasti akan berhati-hati dalam hal itu.

Susahnya, sampai sekarang, obat favorit untuk menjinakkan inflasi masih tetap dengan cara menaikkan rate. Solusinya? Ya penghematan terhadap segala sesuatu yang bisa dihemat tanpa mengurangi kualitas. Margin sepertinya memang harus direlakan untuk turun. Tapi, kalau memang ada kesempatan menaikkan harga, ya memang harus dilakukan. Kalau terlambat, ke depan susah untuk naik.

Yang menarik, rusunami tetap mempertahankan harga Rp 144 juta. Angka keramat. Tapi, beberapa fasilitas di dalam unitnya dikurangi. Apartemen yang harganya mahal tetap saja kenceng. Sebab, segmen atas tidak terpengaruh, asal konsep yang dijual kreatif.

Bagaimana low cost airline? Salah seorang petinggi airline mengatakan bahwa naiknya minyak cukup bikin pusing. Minyak bisa punya porsi 60 sampai 70 persen dari seluruh cost. Bahkan, itu bisa 80 persen kalau harga minyak naik terus dan harga tidak bisa naik secara seimbang.

Solusinya? Balik lagi, sesuai karakter bisnisnya, ya meningkatkan efisiensi. Ternyata, pesawat bisa diterbangkan lebih lambat sedikit, tapi bisa menghemat biaya minyak cukup banyak. Efisiensi di bidang lain juga tetap dicari. Misalnya, mencari rute baru.

Saat ini, Bali menjadi hub baru yang banyak dipertimbangkan banyak low cost airline. Sebab, Bali tidak pernah krisis. Malah, karena harga traveling naik, orang yang biasa keluar negeri beralih ke Bali. Turis asing juga merasa lebih murah berlibur ke Bali. Berdasar hasil survei Singapore Airlines, ditemukan bahwa 60 persen orang Eropa dan Rusia yang terbang ke Singapura sebenarnya ingin ke Bali. Hebat kan? Low cost airline juga melihat akan terjadi migrasi penumpang. Dari yang terbiasa menggunakan airline akan pindah budget airline.

Saya juga sempat mengajak diskusi orang dari industri operator seluler. Komentar mereka? Kalau ongkos rutin maupun investasi naik terus, teknologi CDMA akan menang. Sebab, selain teknologinya lebih kaya dari GSM, investasinya lebih irit. Untuk coverage yang sama, CDMA hanya membutuhkan satu BTS, sedangkan GSM delapan BTS.

Selain itu, paket-paket yang lebih hemat akan makin banyak. Bukan sekadar cheaper with the same product, tapi juga smart product. Salah satu contoh menarik adalah Rp 1 per karakter untuk SMS dari Esia. Instead of bayar Rp 250 untuk 160 karakter. Sekarang, kalau hanya kirim pesan singkat “OK”, ya cukup bayar Rp 2. Apalagi kalau cuma “K” yang artinya sama dengan “OK”, bayarnya cukup Rp 1.

Komunikasi juga harus lebih smart. Above the line dikurangi, meski masih tetap penting untuk menjaga brand image. Tapi, tetap harus pintar dalam spending-nya. Kontes cara menghemat SMS juga smart karena melibatkan customer untuk punya ide kreatif, kemudian disebar ke customer lain.

Inilah yang saya sebut bahwa marketing itu memang sedang beralih dari yang bersifat one-to-many/vertical ke arah many-to-many/horizontal. Selain itu, kontrol untuk mengetahui apakah sebuah program berjalan efektif dilakukan harian, tidak lagi bulanan. Begitu diketahui tidak efektif, langsung dihentikan atau diubah. Langsung!Itu memang bukan survei komprehensif, tapi justru “sensing” semacam ini yang penting. Saya bagikan di sini agar Anda juga bisa punya ide untuk menghadapi semester dua yang tidak gampang ini. Yang pasti, dari semua orang yang saya ajak bicara -bukan cuma tiga di atas- mereka cukup optimistis.

Tidak seperti pada 2006, ketika harga bensin naik 100 persen, atau bahkan 1998. Krisis kali ini lebih bersifat global dan permanen. Sesudah ini, semua pasti harus berubah dalam cara menjalankan bisnis dan marketing. Maka, saya selalu menyarankan agar kita bisa mengatakan welcome new wave marketing.

Kita perlu mentalitas, paradigma, dan perilaku baru. Bukan hanya untuk survive di semester dua tahun ini, tapi agar bisa sustainable di new world ini.

The MarkPlus Festival 10 Juli nanti didesain untuk memberikan penjelasan tentang hal itu. Dengan mendengarkan speakers dari berbagai industri, Anda akan belajar banyak dan mengerti wisdom mereka. Ingat, creative ideas always come from other industries. Bagaimana pendapat Anda? (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: